1 / 8

Di kamar tidurku yg sebelumnya, aku melakukan banyak hal, dari kerja, olahraga, nonton Netflix, sampai melakukan hobi kayak baca buku, menggambar, sampai bikin kopi jugaš Batas antara waktu istirahat dan waktu produktif jadi āblurā. Jadi, waktu pindah ke rumah ini, I had a new intention: I wanted my bedroom to feel like a bedroom. Tempat buat benar-benar istirahat ajaš“ Kamar tidurku sekarang ukurannya nggak terlalu besar, tapi kerasa luas karena nggak banyak barang. Ada kamar mandi dan semacam area walk-in closet yang dipisahkan dengan sedikit tembok, enough to hide the clutteršš½ Satu hal yang aku suka, kamar ini langsung menghadap ke teras kecil tanpa atap. Cahaya dan angin pagi gampang masuk, dan somehow suasananya ngingetin sama villa-villa di Bali (minus kolam renangnyaš„²). Bangun pagi di sini rasanya jadi lebih tenang aja gitu. Di kamar ini, aku nggak ngapa-ngapain selain tidur, rebahan, dan baca buku. No work allowed. (Reading gets a pass because itās part of my wind-down routine) Tata ruang, pilihan furnitur, dan dekorasinya juga dijaga supaya tetap simpel dan nyaman. Aku pakai kasur yang firm dengan dipan custom, bedcover set dari katun 100% yang adem dan lembut, kursi baca yang nyaman, meja kecil, dan lampu dengan cahaya warmš Dari semua hal ini, aku belajar kalau kenyamanan beristirahat itu bisa dicapai bukan hanya dari empuknya bantal atau estetika ruangan. Tapi juga soal setting boundaries and giving space for myself to really ārestā. That little boundary has made all the differenceš #bedroomstyling #inspirasikamar #kamartidurnyaman #dalkomspace #bedcoverset #lantaikamar #pintusliding